InfoArtis,- Jakarta — Dunia musik Indonesia kembali berduka. Sosok drummer band Rocker Kasarunk, Christian Wibisono yang dikenal dengan nama panggung Ian Rocker Kasarunk, meninggal dunia pada Selasa (17/3/2026) pukul 18.38 WIB di Rumah Sakit Fatmawati.
Kabar duka ini tidak hanya mengejutkan para penggemar, tetapi juga meninggalkan cerita pilu terkait detik-detik terakhir sang musisi. Kronologi kepergian Ian diungkap oleh sahabatnya, Rizky—yang akrab disapa Ricky—yang setia mendampingi selama masa perawatan.
Kondisi Kritis Sejak Siang Hari
Menurut penuturan Ricky, kondisi Ian sudah cukup kritis sejak siang hari ketika pertama kali dibawa ke rumah sakit. Ian seharusnya segera mendapatkan penanganan intensif di ruang ICU sekitar pukul 13.00 WIB.
Namun situasi di rumah sakit saat itu tidak memungkinkan. Keterbatasan ruang ICU membuat Ian harus menunggu hingga sore hari untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
“Harusnya dia sudah masuk ICU sekitar jam satu siang. Tapi karena ICU penuh, akhirnya baru bisa masuk sekitar jam 17.30,” ungkap Ricky melalui sambungan telepon.
Penundaan tersebut menjadi salah satu momen krusial dalam perjalanan kondisi kesehatan Ian. Selama masa tunggu, ia tetap dalam kondisi yang membutuhkan bantuan oksigen intensif, mengingat penyakit paru-paru yang dideritanya.
Momen Kritis Saat Pemindahan
Situasi semakin genting saat proses pemindahan Ian dari satu tempat ke tempat lain di dalam rumah sakit. Proses ini melibatkan pemindahan ranjang medis sekaligus pergantian tabung oksigen.
Dalam kondisi pasien dengan gangguan paru-paru berat, pasokan oksigen menjadi faktor vital yang tidak boleh terputus, bahkan hanya dalam hitungan detik.
Ricky menjelaskan bahwa saat proses pemindahan berlangsung, selang oksigen Ian sempat dilepas untuk diganti ke tabung lain. Momen singkat ini ternyata berdampak besar terhadap kondisi tubuhnya.
“Karena dia sakit paru-paru, lepas oksigen satu sampai tiga detik saja sangat berpengaruh,” ujarnya.
Tak lama setelah itu, tanda-tanda kondisi kritis mulai terlihat. Ricky yang saat itu berada di ruangan langsung menyadari adanya perubahan drastis pada kondisi sahabatnya.
Kesadaran Mulai Hilang
Detik-detik paling menegangkan terjadi saat Ricky kembali memasuki ruangan dan melihat kondisi Ian yang sudah tidak normal. Ia menggambarkan bagaimana mata Ian terlihat mendelik ke atas—tanda yang menunjukkan penurunan kesadaran secara tiba-tiba.
“Saya lihat matanya sudah mendelik ke atas,” kata Ricky.
Kondisi tersebut langsung memicu kepanikan. Ricky berusaha membangunkan Ian dengan memanggil namanya berulang kali, berharap ada respons.
Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Ian tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran, membuat situasi semakin mencekam.
Kepanikan di Ruang Perawatan
Kepanikan tak terelakkan di ruang perawatan. Ricky segera memanggil tenaga medis untuk memberikan pertolongan. Dalam kondisi darurat tersebut, ia menjadi salah satu pihak yang paling sigap karena berada paling dekat dengan pasien.
“Saya langsung teriak, panggil Ian berkali-kali, tapi tidak ada respons,” tuturnya.
Ia kemudian memanggil perawat dan tenaga medis lainnya untuk segera menangani kondisi Ian. Situasi semakin menantang karena kejadian tersebut bertepatan dengan waktu berbuka puasa, yang membuat jumlah tenaga yang tersedia di ruangan menjadi terbatas.
“Yang laki hanya saya dan satu orang lagi,” tambahnya.
Meski tenaga medis segera memberikan penanganan, kondisi Ian terus menurun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada pukul 18.38 WIB.
Duka Mendalam Dunia Musik
Kepergian Ian Rocker Kasarunk meninggalkan duka mendalam bagi dunia musik Tanah Air, khususnya bagi para penggemar dan rekan-rekan musisi yang mengenalnya.
Sebagai drummer, Ian dikenal memiliki karakter permainan yang kuat dan enerjik, menjadi bagian penting dari identitas musik band Rocker Kasarunk.
Lebih dari sekadar musisi, Ian juga dikenal sebagai sosok yang dekat dengan sahabat-sahabatnya. Kesaksian Ricky menjadi bukti betapa ia tidak pernah sendirian hingga detik-detik terakhir hidupnya.
Refleksi atas Penanganan Darurat
Peristiwa ini juga menjadi pengingat penting mengenai risiko tinggi dalam penanganan pasien dengan gangguan paru-paru. Ketergantungan terhadap oksigen membuat setiap prosedur medis harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Perpindahan alat bantu pernapasan, meskipun hanya berlangsung dalam hitungan detik, dapat membawa dampak fatal jika tidak dilakukan secara optimal.
Di sisi lain, keterbatasan fasilitas seperti ruang ICU juga menjadi tantangan tersendiri dalam pelayanan kesehatan, terutama dalam kondisi darurat.
Penutup
Kepergian Christian Wibisono menjadi kehilangan besar yang dirasakan banyak pihak. Kisah detik-detik terakhirnya bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga pelajaran tentang pentingnya kesiapsiagaan dalam penanganan medis.
Di tengah kesedihan, kenangan akan karya dan perjalanan hidupnya akan tetap hidup di hati para penggemar dan orang-orang terdekatnya.