InfoBola,- Jakarta – Hasil kurang memuaskan diraih Timnas Indonesia U-17 dalam laga uji tanding melawan China pekan ini. Bermain di Indomilk Arena, Tangerang, skuad Garuda Muda harus mengakui keunggulan lawan dalam dua pertandingan berturut-turut.
Pada laga pertama, Timnas U-17 takluk dengan skor telak 0-7. Sementara pada pertemuan kedua, Indonesia kembali kalah dengan skor 2-3. Meski demikian, Kepala Pemandu Bakat Timnas Indonesia, Simon Tahamata, menegaskan bahwa hasil tersebut tidak mencerminkan kekuatan sesungguhnya tim.
Menurut Simon, kekalahan dalam laga uji coba adalah bagian dari proses pembentukan tim, terutama di level usia muda yang masih dalam tahap pengembangan.
Evaluasi Dua Laga Berbeda
Simon mengakui bahwa performa tim pada pertandingan pertama memang belum memuaskan. Kekalahan 0-7 menjadi catatan serius yang perlu dievaluasi oleh jajaran pelatih.
“Pertandingan pertama tidak bagus,” ujar Simon.
Namun, ia melihat perkembangan signifikan pada laga kedua. Meski kembali kalah, permainan dinilai jauh lebih baik dibandingkan pertemuan sebelumnya. Dalam laga kedua yang berakhir 2-3, para pemain dinilai mampu menjalankan instruksi pelatih dengan lebih disiplin.
Simon secara khusus menyoroti respons positif para pemain terhadap arahan pelatih kepala, Nova Arianto. Ia menyebut bahwa apa yang disampaikan Nova kepada para pemain mampu diterjemahkan dengan baik di lapangan.
“Yang kedua saya senang. Apa yang Coach Nova sampaikan untuk mereka, itu pemain bisa jalankan. Tidak usah khawatir, nanti bisa bagus,” kata Simon.
Proses Pembentukan Tim
Timnas U-17 saat ini tengah berada dalam fase pembangunan tim jangka panjang. Di level usia muda, stabilitas permainan dan kematangan taktik memang belum sepenuhnya terbentuk.
Uji tanding melawan tim kuat seperti China menjadi bagian dari proses penguatan mental dan teknis pemain. Menghadapi lawan dengan intensitas permainan tinggi memberi pengalaman berharga bagi pemain muda Indonesia.
Simon menilai bahwa hasil akhir bukanlah satu-satunya tolok ukur dalam pertandingan uji coba. Yang lebih penting adalah bagaimana tim belajar dari kesalahan dan menunjukkan perkembangan dari satu laga ke laga berikutnya.
Perbedaan performa antara pertandingan pertama dan kedua menjadi indikasi bahwa tim memiliki kapasitas untuk berkembang.
Mental dan Adaptasi Pemain Muda
Kekalahan telak 0-7 tentu menjadi pukulan berat secara mental bagi pemain muda. Namun, kemampuan untuk bangkit dan tampil lebih kompetitif pada laga kedua menunjukkan karakter yang mulai terbentuk.
Pemain seperti Mierza Firjatullah dan rekan-rekannya dinilai masih memiliki ruang besar untuk berkembang. Usia yang masih sangat muda membuat proses pembelajaran menjadi hal yang utama.
Dalam sepak bola usia dini, konsistensi dan adaptasi menjadi tantangan terbesar. Pemain tidak hanya dituntut memahami taktik, tetapi juga menjaga fokus, kebugaran, dan kepercayaan diri di tengah tekanan pertandingan internasional.
Simon menegaskan bahwa perjalanan tim masih panjang. Oleh karena itu, kekalahan dalam tahap awal tidak perlu dibesar-besarkan.
Peran Laga Uji Tanding
Laga uji tanding memiliki fungsi strategis dalam kalender pembinaan tim nasional. Selain untuk mengukur kemampuan teknis, pertandingan semacam ini juga menjadi sarana evaluasi strategi, komposisi pemain, serta kedalaman skuad.
Menghadapi tim dengan kualitas berbeda memberi gambaran nyata mengenai kekuatan dan kelemahan yang perlu diperbaiki. Dalam konteks ini, dua laga melawan China menjadi bahan evaluasi penting bagi staf pelatih.
Simon menekankan bahwa membangun tim kompetitif membutuhkan waktu dan proses berkelanjutan. Sinkronisasi antar lini, pemahaman pola permainan, serta kekompakan tim tidak bisa terbentuk secara instan.
Optimisme untuk Masa Depan
Meski hasil di Indomilk Arena belum berpihak pada Indonesia, optimisme tetap digaungkan. Simon percaya bahwa dengan pembinaan yang tepat dan kerja keras, tim ini dapat berkembang menjadi skuad yang solid.
Dukungan terhadap pemain muda juga menjadi faktor krusial. Tekanan publik yang berlebihan justru dapat mengganggu proses tumbuh kembang mereka.
Pengalaman menghadapi kekalahan menjadi bagian dari pembelajaran penting dalam karier sepak bola. Banyak pemain besar dunia yang mengawali perjalanan mereka dengan berbagai tantangan sebelum akhirnya mencapai puncak prestasi.
Fokus pada Perbaikan
Ke depan, fokus utama tim adalah memperbaiki organisasi permainan dan memperkuat koordinasi antar lini. Evaluasi terhadap lini pertahanan yang kebobolan cukup banyak gol pada laga pertama menjadi prioritas.
Di sisi lain, produktivitas gol yang mulai terlihat pada pertandingan kedua menunjukkan adanya progres positif. Hal ini menjadi modal awal untuk membangun kepercayaan diri tim.
Simon menilai bahwa sinyal perbaikan sudah tampak. Tinggal bagaimana konsistensi tersebut dijaga dan ditingkatkan dalam sesi latihan maupun pertandingan berikutnya.
Penutup
Dua kekalahan beruntun dari China di Indomilk Arena menjadi ujian awal bagi Timnas Indonesia U-17. Namun, bagi Simon Tahamata, hasil tersebut bukan alasan untuk panik.
Sebaliknya, ia melihat adanya perkembangan dari pertandingan pertama ke laga kedua. Instruksi pelatih mulai dijalankan dengan baik, dan respons pemain menunjukkan potensi yang menjanjikan.
Dalam proses pembinaan sepak bola usia muda, hasil bukanlah segalanya. Yang lebih penting adalah fondasi permainan, mentalitas, dan kerja sama tim yang terus dibangun.
Dengan waktu yang masih tersedia dan proses yang terus berjalan, Garuda Muda diyakini mampu tampil lebih kompetitif ke depan. Optimisme itulah yang kini menjadi pegangan jajaran pelatih dan pemandu bakat dalam membentuk generasi baru sepak bola Indonesia.