InfoEkonomi,- Iran – Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, telah dinyatakan meninggal dunia menyusul serangan militer besar yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel, menurut konfirmasi dari media pemerintah Iran dan pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC). Pernyataan resmi tersebut disiarkan di saluran televisi IRINN pagi ini, memperlihatkan foto-foto Khamenei disertai lantunan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai latar dan tanda berkabung dengan pita hitam di layar televisi.
Dalam pernyataannya, SNSC menyatakan bahwa Khamenei wafat sebagai “syahid” dan kematiannya akan menjadi “awal dari kebangkitan dalam perjuangan melawan para penindas”, seraya menuduh Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Pernyataan itu menyebut bahwa Khamenei wafat pada Sabtu (28/02) dini hari di kantornya saat tengah menjalankan tugas.
🧨 Serangan Gabungan AS dan Israel
Serangan udara yang melanda sejumlah lokasi di Iran diumumkan sebagai bagian dari operasi militer bersama antara AS dan Israel, dengan target utama struktur komando dan kepemimpinan tertinggi Teheran. Menurut laporan internasional, bom-bom yang dijatuhkan menghantam kompleks yang dipercaya menjadi tempat Khamenei berada saat serangan dimulai, meskipun detail lengkap tentang bagaimana kematian terjadi belum dirilis secara rinci oleh media pemerintah.
Pihak AS, melalui Presiden Donald Trump, telah mengklaim bahwa operasi tersebut secara efektif mengeliminasi Khamenei, menyebutnya sebagai “keberhasilan besar” dan kesempatan bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali kendali negara mereka dari apa yang disebutnya sebagai rezim yang represif. Trump bahkan menyatakan bahwa operasi akan berlanjut sampai tujuan strategis tercapai, termasuk melemahkan kemampuan militer Iran.
💥 Korban di Lingkungan Khamenei
Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa sejumlah anggota keluarga dekat Khamenei — termasuk putrinya, menantunya, dan seorang cucunya — tewas dalam serangan tersebut. Kantor berita Fars yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menguatkan laporan tentang kematian salah satu menantu perempuan Khamenei.
Selain itu, sejumlah pejabat militer penting Iran dilaporkan tewas dalam serangan yang sama. Di antara mereka adalah Panglima Korps Garda Revolusi Islam, Mohammad Pakpour, serta Ali Shamkhani, Sekretaris Dewan Pertahanan Iran. Dua nama ini termasuk dalam jajaran atas struktur militer negara yang menjadi prioritas target serangan.
🌍 Reaksi Internasional & Potensi Perang Besar
Pada saat berita ini ditulis, respons internasional telah bermunculan. Negara-negara sekutu AS di Eropa berbicara tentang kemungkinan konsekuensi ekonomi dan politik, sementara negara-negara Arab dan negara regional lainnya menyerukan de-eskalasi. Dewan Keamanan PBB dipanggil darurat untuk membahas situasi yang cepat berubah ini, mengingat potensi konflik meluas ke wilayah lain di Timur Tengah.
Sementara itu, Iran telah menandai 40 hari berkabung nasional atas wafatnya Khamenei, sebuah praktik tradisional Syiah yang juga menunjukkan besarnya dampak simbolis dari kematian pemimpin tertinggi. Pemerintah Iran menyatakan bahwa organisasi ini akan tetap melanjutkan kebijakan luar negeri dan pertahanannya, meskipun tanpa pemimpin yang sangat berpengaruh ini.
🧠 Ketidakpastian Politik di Iran
Khamenei, yang berusia 86 tahun, telah memimpin Iran sejak 1989, mengendalikan seluruh cabang kekuasaan negara — politik, militer, dan urusan agama — selama lebih dari tiga dekade. Tidak adanya penerus yang jelas serta struktur politik yang sangat terpusat di sekeliling pribadi Khamenei menjadikan era baru ini penuh ketidakpastian. Majelis Ahli Ulama Iran, badan yang bertanggung jawab atas pemilihan Pemimpin Tertinggi, kini menghadapi tekanan besar untuk segera menentukan penerus dalam suasana yang makin tegang.
Sejumlah analis internasional memperingatkan bahwa kekosongan kekuasaan ini bisa memicu gejolak internal di Iran, serta kemungkinan pergeseran dramatis dalam hubungan luar negeri negara dengan kekuatan dunia. Efek domino diperkirakan meluas hingga pasar minyak global dan geopolitik Energi di Timur Tengah, sementara hubungan militer dan diplomatik antara AS dan para sekutunya diuji dalam kondisi yang sangat kompleks ini.