InfoEkonomi,- Saham Pandora, produsen perhiasan terbesar di dunia asal Denmark, terjun bebas hampir 7% pada perdagangan terbaru. Penurunan tajam ini terjadi setelah analis memperingatkan tekanan ganda yang membebani bisnis perusahaan, mulai dari lonjakan harga perak hingga melemahnya daya beli konsumen global.
Tekanan terhadap saham Pandora semakin kuat setelah analis dari Jefferies secara resmi menurunkan peringkat saham perusahaan dari Buy menjadi Hold. Dalam catatan riset terbarunya, Jefferies menilai Pandora kini berada dalam posisi yang semakin sulit akibat kombinasi faktor eksternal yang tidak menguntungkan.
Analis Jefferies menyebut kondisi ekonomi makro global saat ini membuat konsumen menjadi jauh lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka, terutama untuk produk non-esensial seperti perhiasan. Di saat yang sama, biaya produksi justru meningkat seiring tingginya harga bahan baku utama yang digunakan perusahaan.
“Pandora saat ini terjepit di antara konsumen yang semakin tertekan dan harga perak yang masih tinggi,” tulis analis Jefferies dalam nota penelitian yang dikutip pada Rabu (4/2/2026).
Harga Perak Bergejolak, Tekan Sentimen Pasar
Tekanan terhadap Pandora tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar komoditas global. Harga perak sempat mencatatkan penurunan harian terburuk sejak 1980 pada perdagangan Jumat lalu. Gejolak tersebut terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) berikutnya.
Pengumuman ini meredakan kekhawatiran investor terkait independensi bank sentral AS, yang sebelumnya mendorong pelarian besar-besaran ke aset aman seperti logam mulia. Ketika kekhawatiran tersebut mereda, investor mulai melepas kepemilikan aset safe haven, menyebabkan harga perak tertekan tajam.
Bagi Pandora, volatilitas harga perak menjadi tantangan serius. Sebagai produsen perhiasan yang sebagian besar produknya berbahan dasar perak, setiap perubahan harga logam mulia tersebut berdampak langsung pada struktur biaya dan margin keuntungan perusahaan.
Meski penurunan harga perak secara teori dapat mengurangi biaya produksi, fluktuasi ekstrem justru menciptakan ketidakpastian dalam perencanaan bisnis. Kondisi ini menyulitkan perusahaan dalam mengatur stok bahan baku, strategi harga, hingga proyeksi laba jangka menengah.
Konsumen Menahan Belanja, Penjualan Terancam
Selain tekanan dari sisi biaya, faktor permintaan juga menjadi perhatian utama pasar. Tingginya inflasi global dan ketidakpastian ekonomi membuat konsumen di berbagai negara semakin selektif dalam berbelanja.
Produk perhiasan, yang selama ini masuk dalam kategori discretionary spending, kini lebih sering ditunda pembeliannya. Analis menilai tren kehati-hatian konsumen ini berpotensi menekan volume penjualan Pandora, terutama di pasar utama seperti Eropa dan Amerika Utara.
Penurunan rekomendasi dari Jefferies pun memperkuat kekhawatiran investor terhadap prospek jangka pendek perusahaan. Saham Pandora langsung merespons negatif laporan tersebut, dengan aksi jual yang cukup agresif di pasar.
Investor Tunggu Langkah Strategis
Meski sahamnya tertekan, Pandora masih memiliki fondasi bisnis yang kuat. Perusahaan dikenal memiliki merek global yang solid, jaringan ritel luas, serta kemampuan inovasi desain yang konsisten. Namun, pasar menilai keunggulan tersebut belum cukup untuk meredam tekanan jangka pendek yang sedang berlangsung.
Investor kini menanti langkah konkret manajemen Pandora dalam menghadapi situasi ini, termasuk upaya pengendalian biaya, efisiensi operasional, serta strategi untuk tetap menarik minat konsumen di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
Dalam jangka pendek, saham Pandora diperkirakan masih akan bergerak volatil, mengikuti dinamika harga perak dan sentimen global. Selama tekanan terhadap konsumen dan ketidakpastian pasar belum mereda, ruang pemulihan saham perusahaan ini dinilai masih terbatas.
Outlook Pasar Masih Penuh Tantangan
Kombinasi antara gejolak harga komoditas, perubahan kebijakan moneter global, dan pelemahan daya beli konsumen membuat prospek sektor perhiasan berada dalam tekanan. Pandora menjadi salah satu contoh bagaimana perusahaan besar sekalipun tidak kebal terhadap perubahan sentimen pasar.
Untuk sementara, para analis menyarankan investor bersikap lebih hati-hati terhadap saham Pandora sambil menunggu kejelasan arah ekonomi global dan stabilisasi harga bahan baku.