InfoEkonomi,- Jakarta – Aksi yang tak terlupakan terjadi dalam rapat koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang berlangsung di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Bupati Nias Utara, Amizaro Waruwu, menarik perhatian seluruh peserta rapat dengan aksi sujudnya di podium, sebuah tindakan yang menggambarkan jeritan hati rakyat Nias Utara dan daerah tertinggal lainnya.
Dalam pertemuan tersebut, Amizaro berdiri di hadapan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Yandri Susanto, serta Wali Kota Medan Bobby Nasution. Ia menyampaikan dengan penuh emosi mengenai kondisi masyarakat Nias Utara yang masih terbelenggu kemiskinan dan keterbatasan infrastruktur, meskipun Indonesia telah lama merdeka.
“Sujud ini adalah simbol dari hati kami, rakyat Nias Utara, yang sudah lama menanti perubahan,” ujar Amizaro dengan penuh rasa haru. “Kami lelah menunggu pembangunan yang belum sampai. Rakyat kami hidup dalam kemiskinan, infrastruktur kami terbatas, dan kami merasa terabaikan.”
Aksi sujud yang dilakukan Amizaro ini bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk seluruh masyarakat Nias Utara yang merasa terpinggirkan. Ia berharap agar pemerintah pusat mempercepat pembangunan di daerah-daerah tertinggal seperti Nias Utara, yang masih sangat membutuhkan perhatian dalam hal pembangunan infrastruktur, fasilitas publik, dan pemberdayaan ekonomi.
Kondisi Tertinggal di Nias Utara
Nias Utara, yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, adalah salah satu daerah yang masuk dalam kategori 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Daerah ini masih menghadapi banyak tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur, kurangnya fasilitas pendidikan dan kesehatan yang memadai, hingga akses yang sulit ke berbagai layanan dasar. Meskipun Indonesia sudah merdeka selama lebih dari 70 tahun, banyak daerah seperti Nias Utara yang belum merasakan pembangunan yang merata.
Amizaro, yang dipercaya menjadi koordinator bagi 30 daerah tertinggal di Indonesia, menegaskan bahwa pembangunan di wilayah-wilayah ini membutuhkan perhatian lebih. “Rakyat kami bukan hanya butuh simbol atau janji, tapi tindakan nyata. Kami butuh jalan, kami butuh sekolah, kami butuh rumah sakit. Kami butuh pemerataan pembangunan,” ujarnya.
Kondisi ini diperburuk dengan akses transportasi yang terbatas. Masyarakat Nias Utara sering kali kesulitan untuk menjangkau pusat pemerintahan atau fasilitas pelayanan publik lainnya. Untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak, misalnya, banyak anak-anak di sana harus menempuh perjalanan jauh yang tak jarang memakan waktu berjam-jam. Sementara itu, fasilitas kesehatan yang terbatas sering kali mempengaruhi kualitas hidup warga.
Perhatian Pusat Dibutuhkan
Amizaro menegaskan bahwa sujud yang dilakukannya adalah sebuah bentuk permohonan kepada pemerintah pusat untuk memberikan perhatian lebih pada daerah-daerah tertinggal. Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada kota-kota besar yang sudah berkembang, tetapi juga pada daerah-daerah yang membutuhkan perhatian ekstra