InfoBerita,- LUMAJANG, Jawa Timur — Gunung Semeru kembali memperlihatkan aktivitas vulkaniknya pada Rabu pagi (18/2/2026), pukul 06.57 WIB, dengan letusan yang kuat dan kolom abu vulkanik terpantau mencapai sekitar 800 meter di atas puncak gunung. Peristiwa ini terekam jelas oleh alat pemantau kegempaan sebagai aktivitas vulkanik serius dan mempertegas bahwa Semeru masih dalam fase aktif.
Erupsi yang terjadi tersebut menghasilkan kolom abu vulkanik yang berwarna kelabu, memiliki intensitas cukup tebal, dan mengarah ke timur laut dari pusat kawah. Data dari stasiun monitoring menunjukkan bahwa letusan ini terekam seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 22–23 mm dan durasi kegempaan mencapai lebih dari 100 detik, menandakan bahwa fenomena ini bukan sekadar hembusan biasa, melainkan letusan sungguhan yang memicu peningkatan kegempaan dalam waktu singkat.
📈 Aktivitas Semeru Sepanjang Hari
Selain ledakan pagi, PVMBG melaporkan bahwa sejak pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, tercatat lebih dari 20 kali gempa letusan/erupsi yang enam di antaranya terekam dengan amplitudo mencapai puluhan mm. Hal ini menunjukkan bahwa status vulkanik Semeru tetap tidak stabil dan berisiko tinggi untuk kembali meletus dalam waktu dekat.
📌 Rekomendasi Mitigasi Bahaya
Para pengamat gunung api dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat dan wisatawan. Mereka dilarang melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara Gunung Semeru sepanjang aliran sungai Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak dan 500 meter dari tepi sungai terdekat. Risiko awan panas (pyroclastic flow) dan aliran lahar diperkirakan dapat mencapai radius hingga 17 kilometer dari puncak jika letusan lebih besar terjadi lagi.
Larangan ini bukan sekadar formalitas. Letusan Semeru, yang merupakan salah satu gunung paling aktif di Indonesia, dikenal luas memiliki risiko awan panas dan aliran material vulkanik yang mematikan. Bahkan pada insiden sebelumnya, erupsi yang lebih besar pernah memaksa evakuasi warga dan menyebabkan kerusakan secara signifikan di desa-desa kaki gunung.
⚠️ Status Aktivitas dan Potensi Bahaya
Gunung Semeru sejak awal tahun ini terus menunjukkan intensitas letusan yang tinggi. Sepanjang tahun 2026, tercatat ratusan letusan telah direkam di sejumlah titik, dengan Semeru menjadi kontributor terbesar terhadap jumlah tersebut. Aktivitas terus dipantau secara intensif melalui jaringan seismograf serta citra visual dari Pos Pemantau Gunung Api setempat.
Meski tidak ada laporan korban jiwa atau kerusakan berat dari letusan pagi ini, para ahli memperingatkan bahwa erupsi vulkanik tidak dapat diprediksi dengan jam dan menit yang pasti. Ancaman serius dapat datang secara tiba-tiba, menyapu area yang sebelumnya dianggap aman, khususnya bila gempa vulkanik meningkat drastis atau terjadi runtuhan piroklastik besar.
📍 Dampak untuk Masyarakat dan Lingkungan
Warga desa-desa di lereng Semeru dan pengunjung area wisata alam di sekitarnya telah diminta untuk tetap siaga dan mematuhi arahan otoritas. Abu vulkanik yang tersebar meskipun tidak setinggi letusan besar tetap berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan, menurunkan jarak pandang, dan mengganggu aktivitas transportasi lokal jika menyebar ke wilayah yang lebih luas.
Perlu diingat bahwa gunung api seperti Semeru adalah bagian dari Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire), jalur tektonik aktif yang melintasi Indonesia dengan ratusan gunung berapi aktif lainnya. Oleh karena itu, setiap letusan kecil sekalipun bisa menjadi indikator kemungkinan kejadian yang lebih besar di kemudian hari.