InfoArtis,- Jakarta – Setelah mencuri perhatian publik lewat perannya di film Agak Laen: Menyala Pantiku, Oki Rengga kembali hadir dalam proyek berbeda. Kali ini, ia membintangi serial Dunia Tanpa Tuhan bersama Lolox. Meski sama-sama berada di dunia seni peran, Oki mengaku pengalaman berakting di serial menghadirkan tantangan yang tak ia duga sebelumnya.
Aktor dan komika yang dikenal dengan gaya khasnya itu harus melalui proses adaptasi yang cukup panjang. Bahkan untuk adegan sederhana seperti ekspresi terkejut atau marah, ia mengaku berkali-kali mendapat koreksi dari sutradara.
Perbedaan Teknis Film dan Serial
Nama Oki Rengga mulai dikenal luas lewat kiprahnya di dunia komedi sebelum merambah dunia perfilman. Kesuksesannya di Agak Laen: Menyala Pantiku menjadi salah satu batu loncatan penting dalam karier aktingnya. Namun saat menerima tawaran membintangi serial Dunia Tanpa Tuhan, Oki menyadari bahwa medium yang berbeda menuntut pendekatan yang berbeda pula.
Ia menjalani proses syuting serial tersebut sejak Desember 2025 hingga 31 Januari 2026. Meski proses pengambilan gambarnya telah selesai untuk dirinya, sejumlah pemain lain masih melanjutkan produksi.
Menurut Oki, tantangan terbesar terletak pada teknik ekspresi. Dalam film layar lebar, aktor dituntut bermain lebih subtil. Ekspresi harus terlihat natural karena wajah pemain tampil dalam ukuran besar di layar bioskop. Gerakan kecil dan perubahan mimik tipis pun dapat tertangkap jelas oleh kamera.
Sebaliknya, dalam serial yang ditayangkan melalui televisi atau perangkat digital, ekspresi cenderung harus lebih tegas dan dramatis. Intensitas emosi perlu ditingkatkan agar tetap terasa kuat meski ditonton melalui layar yang lebih kecil.
“Di awal-awal itu yang paling sulit buat saya. Ekspresi saya dianggap kurang terasa. Jadi untuk adegan kaget atau marah saja harus diulang beberapa kali,” ungkap Oki saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Proses Adaptasi yang Tidak Instan
Perbedaan pendekatan ini sempat membuatnya merasa kewalahan. Ia mengaku butuh waktu sekitar satu minggu hanya untuk berdiskusi intens dengan sutradara demi menemukan “format” karakter yang tepat.
Diskusi tersebut tidak hanya membahas ekspresi wajah, tetapi juga gestur tubuh, tempo dialog, hingga cara membangun emosi dalam setiap adegan. Oki menyebut proses itu sebagai fase pembelajaran yang sangat berharga.
“Hampir seminggu saya ngobrol terus sama sutradara supaya dapat ritme yang pas. Karena ternyata feel-nya beda banget,” katanya.
Pengalaman ini membuka pemahamannya bahwa setiap medium memiliki bahasa visual sendiri. Jika di film pendekatannya lebih minimalis dan realistis, serial sering kali membutuhkan dramatisasi agar konflik terasa lebih hidup.
Tantangan Konsistensi Karakter
Selain soal ekspresi, tantangan lain yang dirasakan Oki adalah menjaga konsistensi karakter dalam durasi produksi yang cukup panjang. Serial memiliki episode yang berkelanjutan, sehingga perkembangan karakter harus terjaga dari awal hingga akhir.
Berbeda dengan film yang memiliki alur lebih ringkas, serial memungkinkan eksplorasi cerita yang lebih luas. Hal ini menuntut aktor untuk memahami perjalanan emosional karakternya secara lebih mendalam.
Oki menilai pengalaman ini memperkaya kemampuannya sebagai aktor. Ia belajar bagaimana menyesuaikan intensitas akting dengan kebutuhan produksi tanpa kehilangan keaslian karakter.
Kolaborasi Bersama Lolox
Dalam serial ini, Oki beradu akting dengan Lolox. Keduanya dikenal sebagai figur yang memiliki latar belakang komedi. Namun proyek ini menuntut keduanya untuk menghadirkan dinamika yang lebih kompleks dibandingkan sekadar humor.
Kolaborasi tersebut menurut Oki berjalan lancar, meski masing-masing tetap harus beradaptasi dengan tuntutan peran. Ia merasa chemistry yang terbangun membantu proses syuting menjadi lebih ringan.
Pelajaran Berharga
Bagi Oki, pengalaman membintangi serial menjadi pembelajaran penting dalam perjalanan kariernya. Ia kini menyadari bahwa menjadi aktor bukan sekadar menghafal dialog, tetapi juga memahami medium dan kebutuhan visualnya.
Perbedaan skala layar, sudut pengambilan gambar, hingga ritme penceritaan ternyata berpengaruh besar terhadap cara seorang aktor mengekspresikan emosi.
Ia pun tidak menampik bahwa di awal proses syuting sempat merasa “pusing tujuh keliling.” Namun seiring waktu, ia mulai menemukan kenyamanan dalam memainkan perannya.
Pengalaman ini sekaligus menunjukkan profesionalismenya dalam menerima masukan. Alih-alih merasa tersinggung saat mendapat koreksi, Oki justru menjadikannya sebagai kesempatan untuk berkembang.
Evolusi Karier
Langkah Oki Rengga dari dunia stand-up comedy ke film, lalu serial, menandai evolusi karier yang menarik. Ia tidak terpaku pada satu zona nyaman, melainkan terus mengeksplorasi peluang baru di industri hiburan.
Keputusan untuk terlibat dalam serial menjadi bukti bahwa ia siap menghadapi tantangan berbeda. Adaptasi yang awalnya terasa sulit kini menjadi bekal penting untuk proyek-proyek selanjutnya.
Dengan pengalaman tersebut, Oki optimistis bisa tampil lebih matang di kesempatan berikutnya, baik di film maupun serial.
Penutup
Perjalanan Oki Rengga di Dunia Tanpa Tuhan menjadi gambaran bahwa transisi antar medium dalam dunia akting bukanlah perkara sederhana. Meski terlihat serupa, film dan serial memiliki tuntutan teknis serta pendekatan emosional yang berbeda.
Melalui proses diskusi, evaluasi, dan adaptasi, Oki berhasil menemukan ritme yang sesuai dengan karakter yang diperankannya. Pengalaman ini tak hanya memperluas jam terbangnya, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang seni peran secara lebih mendalam.
Di balik layar, perjuangan seorang aktor sering kali tak terlihat penonton. Namun dari situlah kualitas sebuah penampilan dibentuk. Bagi Oki Rengga, tantangan di serial ini menjadi babak baru yang mempertegas komitmennya untuk terus berkembang di industri hiburan Tanah Air.