InfoEkonomi,- Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan efek ekonomi signifikan. Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengklaim bahwa dalam kurun waktu sekitar satu setengah bulan pelaksanaan, program tersebut telah mendorong perputaran uang di masyarakat hingga Rp29 triliun.
Pernyataan itu disampaikan Dadan dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 yang digelar di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, pada Jumat (13/2). Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan proyeksi dampak ekonomi dari realisasi anggaran program MBG yang telah disalurkan ke berbagai daerah.
“Kalau kita lihat di proyeksi uang beredar saat ini satu setengah bulan itu kita sudah proyeksikan ada Rp29 triliun uang sudah beredar di masyarakat dan masing-masing ini dimiliki dan menyebar merata di seluruh provinsi,” ujar Dadan.
Efek Ganda Program Sosial
Program MBG dirancang sebagai inisiatif pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat, terutama bagi kelompok rentan. Namun, menurut Dadan, implementasinya juga memunculkan efek ganda (multiplier effect) bagi perekonomian lokal.
Anggaran yang dialokasikan untuk pembelian bahan pangan, distribusi makanan, hingga operasional pelaksanaan program, disebut menyerap berbagai komponen usaha di daerah. Mulai dari petani, peternak, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), hingga tenaga kerja lokal terlibat dalam rantai pasok program tersebut.
Perputaran dana yang mencapai puluhan triliun rupiah dalam waktu relatif singkat dinilai menunjukkan besarnya dampak fiskal dari kebijakan tersebut. Uang yang dibelanjakan pemerintah melalui program ini tidak berhenti di satu titik, melainkan mengalir dan bertransaksi kembali dalam kegiatan ekonomi masyarakat.
Distribusi Merata ke Seluruh Provinsi
Salah satu poin yang ditekankan Dadan adalah pemerataan distribusi dana. Ia menyebutkan bahwa anggaran program MBG disalurkan ke seluruh provinsi di Indonesia, sehingga manfaat ekonominya tidak terpusat di wilayah tertentu saja.
Distribusi merata ini penting dalam konteks penguatan ekonomi daerah. Dengan melibatkan pelaku usaha lokal, program MBG berpotensi memperkuat struktur ekonomi di tingkat akar rumput, terutama di wilayah yang sebelumnya memiliki aktivitas ekonomi terbatas.
Dalam konteks makroekonomi, belanja pemerintah memang menjadi salah satu instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan. Ketika pemerintah menggelontorkan anggaran dalam jumlah besar, konsumsi masyarakat dan aktivitas produksi cenderung ikut meningkat.
Proyeksi dan Realisasi
Meski angka Rp29 triliun disebut sebagai proyeksi uang yang telah beredar, Dadan tidak merinci secara detail metode perhitungan maupun komponen pembentuk angka tersebut dalam kesempatan itu. Namun, klaim tersebut menggambarkan optimisme pemerintah terhadap dampak ekonomi dari program MBG.
Dalam forum ekonomi seperti Indonesia Economic Outlook 2026, pembahasan mengenai peran belanja negara dalam menjaga momentum pertumbuhan menjadi isu utama. Pemerintah menilai bahwa program-program sosial yang dirancang secara tepat sasaran tidak hanya berdampak pada kesejahteraan masyarakat, tetapi juga menjadi stimulus ekonomi.
Sejumlah ekonom sebelumnya juga menyoroti pentingnya efektivitas penyaluran anggaran agar benar-benar menciptakan dampak ekonomi nyata. Efek perputaran uang akan maksimal apabila belanja pemerintah terserap secara optimal dan melibatkan pelaku usaha domestik.
Tantangan dan Pengawasan
Di balik klaim positif tersebut, pelaksanaan program berskala nasional seperti MBG tentu menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari pengawasan distribusi, kualitas makanan yang disalurkan, hingga akuntabilitas penggunaan anggaran menjadi aspek yang perlu mendapat perhatian.
Transparansi data dan pelaporan realisasi anggaran menjadi kunci untuk memastikan bahwa dampak ekonomi yang diklaim benar-benar terjadi di lapangan. Pemerintah diharapkan menyampaikan laporan berkala mengenai capaian program, baik dari sisi penerima manfaat maupun dampak ekonominya.
Selain itu, koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah menjadi faktor penentu keberhasilan program. Rantai distribusi bahan pangan yang melibatkan banyak pihak memerlukan sistem manajemen yang rapi agar tidak terjadi kebocoran atau inefisiensi.
Dampak pada Sektor Pangan dan UMKM
Program MBG berpotensi meningkatkan permintaan terhadap komoditas pangan lokal. Ketika kebutuhan bahan makanan meningkat secara signifikan, produsen lokal memiliki peluang memperluas produksi. Hal ini dapat berdampak pada peningkatan pendapatan petani dan pelaku usaha kecil.
UMKM di sektor katering, distribusi, dan pengolahan makanan juga berpotensi mendapatkan manfaat langsung. Dengan keterlibatan mereka dalam penyediaan makanan bergizi, roda usaha di tingkat lokal dapat bergerak lebih cepat.
Namun demikian, stabilitas harga pangan juga perlu dijaga. Lonjakan permintaan yang tidak diimbangi dengan pasokan memadai dapat memicu tekanan harga. Oleh karena itu, keseimbangan antara program sosial dan kebijakan stabilisasi pangan menjadi hal yang krusial.
Peran Belanja Negara dalam Pertumbuhan Ekonomi
Dalam teori ekonomi makro, belanja pemerintah merupakan salah satu komponen pembentuk produk domestik bruto (PDB). Ketika belanja meningkat, permintaan agregat ikut terdorong. Jika dikelola dengan baik, kebijakan fiskal ekspansif dapat membantu menjaga pertumbuhan ekonomi, terutama di tengah ketidakpastian global.
Klaim perputaran Rp29 triliun dalam 1,5 bulan menunjukkan skala program MBG yang cukup besar. Apabila tren ini berlanjut, kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional berpotensi signifikan.
Namun, efektivitas jangka panjang tetap bergantung pada konsistensi pelaksanaan, pengawasan, serta kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan fiskal.
Penutup
Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional mengenai perputaran uang Rp29 triliun dari program Makan Bergizi Gratis dalam waktu satu setengah bulan menegaskan ambisi pemerintah menjadikan kebijakan sosial sebagai penggerak ekonomi.
Program MBG tidak hanya diposisikan sebagai solusi peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga sebagai instrumen stimulus ekonomi daerah. Meski demikian, transparansi data dan evaluasi berkala menjadi elemen penting untuk memastikan bahwa dampak yang diklaim benar-benar terealisasi.
Ke depan, keberhasilan program ini akan diukur bukan hanya dari besarnya anggaran yang digelontorkan, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat luas—baik dari sisi kesehatan maupun penguatan ekonomi lokal.